Minggu, 26 Februari 2017



PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP EKSISTENSI KEBUDAYAAN




Septi Putri Ana
XII IPA 6/29
Tahun Ajaran 2016-2017
















KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Karya Ilmiah PKN ini dengan baik.
Karya Ilmiah ini diharapkan mampu membantu saya dalam memperdalam mata pelajaran PKN dalam kegiatan belajar. Selain itu, Karya Ilmiah ini diharapkan agar dapat menjadi bacaan para pembaca agar menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab karena materi ini disajikan mengarah pada terbentuknya arah globalisasi yang berpengaruh terhadap kehidupan social dan budaya.
Oleh karena itu, Karya Ilmiah ini diharapkan agar bangsa Indonesia memiliki sikap yang kritis terhadap situasi, kondisi dan juga dapat menerima perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada para pembaca yang sudah berkenan membaca Karya Ilmiah ini dengan tulus ikhlas. Semoga Karya Ilmiah  ini dapat bermanfaat, khususnya bagi saya dan pembaca. Amin


Kediri, 26 Februari 2017















ABSTRAK

Globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.
Globalisasi secara fisik ditandai dengan perkembangan kota-kota yang menjadi bagian dari jaringan kota dunia. Hal ini dapat dilihat dari infrastruktur telekomunikasi, jaringan transportasi, perusahaan-perusahaan berskala internasional serta cabang-cabangnya.
Dampak Positif :
·         Perubahan tata nilai dan sikap
·         Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi
·         Tingkat kehidupan yang lebih baik
Dampak Negatif :
·         Pola hidup konsumtif
·         Sikap individualistik
·         Gaya hidup kebarat-baratan
·         Kesenjangan Sosial
















DAFTAR ISI
JUDUL .................................................................................................................i
KATA PENGANTAR ..........................................................................................ii
ABSTRAK...........................................................................................................iii
DAFTAR ISI ........................................................................................................iv
BAB 1 PENDAHULUAN ....................................................................................1
 1.1 Latar belakang ..............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................2
1.3 Tujuan ...........................................................................................................2
BAB 2 PEMBAHASAN .......................................................................................3
2.1 Globalisasi dan Budaya.................................................................................2
2.1 Globalisasi Dalam Budaya Tradisional di Indonesia ....................................4
2.3 Perubahan Budaya Dalam Globalisasi..........................................................4
2.4 Cara Mengantisipasi Adanya Globalisasi Kebudayaan ................................6
BAB 3 PENUTUP ................................................................................................8
3.1 Kesimpulan ...................................................................................................8
3.2 Saran .............................................................................................................8
3.3 Penutup..........................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................9


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Globalisasi sendiri merupakan sebuah istilah yang muncul sekitar dua puluh tahun yang lalu, dan mulai begitu populer sebagai ideologi baru sekitar lima atau sepuluh tahun terakhir. Sebagai istilah, globalisasi begitu mudah diterima atau dikenal masyarakat seluruh dunia. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar.
Globalisasi sering diperbincangkan oleh banyak orang, mulai dari para pakar ekonomi, sampai penjual iklan. Dalam kata globalisasi tersebut mengandung suatu pengetian akan hilangnya satu situasi dimana berbagai pergerakan barang dan jasa antar negara diseluruh dunia dapat bergerak bebas dan terbuka dalam perdagangan. Dan dengan terbukanya satu negara terhadap negara lain, yang masuk bukan hanya barang dan jasa, tetapi juga teknologi, pola konsumsi, pendidikan, nilai budaya dan lain-lain. Konsep akan globalisasi menurut Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia secara insentif dan peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Di sini penyempitan dunia dapat dipahami dalam konteks institusi modernitas dan intensifikasi kesadaran dunia dapat dipersepsikan refleksif dengan lebih baik secara budaya.
Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian orang menafsirkan globalisasi sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah perkampungan kecil. Sebagian lainnya menyebutkan bahwa globalisasi adalah upaya penyatuan masyarakat dunia dari sisi gaya hidup, orientasi, dan budaya. Pengertian lain dari globalisasi seperti yang dikatakan oleh Barker (2004) adalah bahwa globalisasi merupakan koneksi global ekonomi, sosial, budaya dan politik yang semakin mengarah ke berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita. Produksi global atas produk lokal dan lokalisasi produk global.
Globalisasi adalah proses dimana berbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain.(A.G. Mc.Grew, 1992). Proses perkembangan globalisasi pada awalnya ditandai kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi. Bidang tersebut merupakan penggerak globalisasi. Dari kemajuan bidang ini kemudian mempengaruhi sektor-sektor lain dalam kehidupan, seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Contoh sederhana dengan teknologi internet, parabola dan TV, orang di belahan bumi manapun akan dapat mengakses berita dari belahan dunia yang lain secara cepat. Hal ini akan terjadi interaksi antarmasyarakat dunia secara luas, yang akhirnya akan saling mempengaruhi satu sama lain, terutama pada kebudayaan daerah,seperti kebudayaan gotong royong,menjenguk tetangga sakit dan lain-lain. Globalisasi juga berpengaruh terhadap pemuda dalam kehidupan sehari-hari, seperti budaya berpakaian, gaya rambut dan sebagainya
1.2. RUMUSAN MASALAH
Adanya globalisasi menimbulkan berbagai masalah terhadap eksistensi kebudayaan daerah, salah satunya adalah terjadinya penurunan rasa cinta terhadap kebudayaan yang merupakan jati diri suatu bangsa, erosi nilai-nilai budaya, terjadinya akulturasi budaya yang selanjutnya berkembang menjadi budaya massa.
1.3. TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu : 1. Mengetahui pengaruh globalisasi terhadap eksistensi kebudayaan daerah 2. Untuk meningkatkan kesadaran remaja untuk menjunjung tinggi kebudayaan bangsa sendiri karena kebudayaan merupakan jati diri bangsa


















BAB II
 PEMBAHASAN
2.1. GLOBALISASI DAN BUDAYA
Gaung globalisasi, yang sudah mulai terasa sejak akhir abad ke-20, telah membuat masyarakat dunia, termasuk bangsa Indonesia harus bersiap-siap menerima kenyataan masuknya pengaruh luar terhadap seluruh aspek kehidupan bangsa. Salah satu aspek yang terpengaruh adalah kebudayaan. Terkait dengan kebudayaan, kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Atau kebudayaan juga dapat didefinisikan sebagai wujudnya, yang mencakup gagasan atau ide, kelakuan dan hasil kelakuan (Koentjaraningrat), dimana hal-hal tersebut terwujud dalam kesenian tradisional kita. Oleh karena itu nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan atau psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran.
Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan Bagi bangsa Indonesia aspek kebudayaan merupakan salah satu kekuatan bangsa yang memiliki kekayaan nilai yang beragam, termasuk keseniannya. Kesenian rakyat, salah satu bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia tidak luput dari pengaruh globalisasi.
Globalisasi dalam kebudayaan dapat berkembang dengan cepat, hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam memperoleh akses komunikasi dan berita namun hal ini justru menjadi bumerang tersendiri dan menjadi suatu masalah yang paling krusial atau penting dalam globalisasi, yaitu kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengertahuan dikuasai oleh negara-negara maju, bukan negara-negara berkembang seperti Indonesia. Mereka yang memiliki dan mampu menggerakkan komunikasi internasional justru negara-negara maju. Akibatnya, negara-negara berkembang, seperti Indonesia selalu khawatir akan tertinggal dalam arus globalisai dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk kesenian kita. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa.
Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Simon Kemoni, sosiolog asal Kenya mengatakan bahwa globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilai budaya. Dalam proses alami ini, setiap bangsa akan berusaha menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Tetapi, menurut Simon Kimoni, dalam proses ini, negara-negara harus memperkokoh dimensi budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing. Dalam rangka ini, berbagai bangsa haruslah mendapatkan informasi ilmiah yang bermanfaat dan menambah pengalaman mereka. Terkait dengan seni dan budaya, Seorang penulis asal Kenya bernama Ngugi Wa Thiong’o menyebutkan bahwa perilaku dunia Barat, khususnya Amerika seolah-olah sedang melemparkan bom budaya terhadap rakyat dunia. Mereka berusaha untuk menghancurkan tradisi dan bahasa pribumi sehingga bangsa-bangsa tersebut kebingungan dalam upaya mencari indentitas budaya nasionalnya. Penulis Kenya ini meyakini bahwa budaya asing yang berkuasa di berbagai bangsa, yang dahulu dipaksakan melalui imperialisme, kini dilakukan dalam bentuk yang lebih luas dengan nama globalisasi.
2.2. GLOBALISASI DALAM KEBUDAYAAN TRADISIONAL DI INDONESIA
Proses saling mempengaruhi adalah gejala yang wajar dalam interaksi antar masyarakat. Melalui interaksi dengan berbagai masyarakat lain, bangsa Indonesia ataupun kelompok-kelompok masyarakat yang mendiami nusantara (sebelum Indonesia terbentuk) telah mengalami proses dipengaruhi dan mempengaruhi. Kemampuan berubah merupakan sifat yang penting dalam kebudayaan manusia. Tanpa itu kebudayaan tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang senantiasa berubah. Perubahan yang terjadi saat ini berlangsung begitu cepat. Hanya dalam jangka waktu satu generasi banyak negara-negara berkembang telah berusaha melaksanakan perubahan kebudayaan, padahal di negara-negara maju perubahan demikian berlangsung selama beberapa generasi. Pada hakekatnya bangsa Indonesia, juga bangsa-bangsa lain, berkembang karena adanya pengaruh-pengaruh luar. Kemajuan bisa dihasilkan oleh interaksi dengan pihak luar, hal inilah yang terjadi dalam proses globalisasi. Oleh karena itu, globalisasi bukan hanya soal ekonomi namun juga terkait dengan masalah atau isu makna budaya dimana nilai dan makna yang terlekat di dalamnya masih tetap berarti..
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dalam berbagai hal, seperti anekaragaman budaya, lingkungan alam, dan wilayah geografisnya. Keanekaragaman masyarakat Indonesia ini dapat dicerminkan pula dalam berbagai ekspresi keseniannya. Dengan perkataan lain, dapat dikatakan pula bahwa berbagai kelompok masyarakat di Indonesia dapat mengembangkan keseniannya yang sangat khas. Kesenian yang dikembangkannya itu menjadi model-model pengetahuan dalam masyarakat.
2.3. PERUBAHAN BUDAYA DALAM GLOBALISASI
Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai dan norma social merupakan salh satu dampak dari adanya globalisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan sarana transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Misalnya saja khusus dalam bidang hiburan massa atau hiburan yang bersifat masal, makna globalisasi itu sudah sedemikian terasa. Sekarang ini setiap hari kita bisa menyimak tayangan film di tv yang bermuara dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, dll melalui stasiun televisi di tanah air. Belum lagi siaran tv internasional yang bisa ditangkap melalui parabola yang kini makin banyak dimiliki masyarakat Indonesia. Sementara itu, kesenian-kesenian populer lain yang tersaji melalui kaset, vcd, dan dvd yang berasal dari manca negara pun makin marak kehadirannya di tengah-tengah kita. Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa negara-negara penguasa teknologi mutakhir telah berhasil memegang kendali dalam globalisasi budaya khususnya di negara ke tiga.
Peristiwa transkultural seperti itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian kita. Padahal kesenian tradisional kita merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga kelestariannya. Di saat yang lain dengan teknologi informasi yang semakin canggih seperti saat ini, kita disuguhi oleh banyak alternatif tawaran hiburan dan informasi yang lebih beragam, yang mungkin lebih menarik jika dibandingkan dengan kesenian tradisional kita.
Dengan parabola masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi. Kondisi yang demikian mau tidak mau membuat semakin tersisihnya kesenian tradisional Indonesia dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sarat akan pemaknaan dalam masyarakat Indonesia. Misalnya saja bentuk-bentuk ekspresi kesenian etnis Indonesia, baik yang rakyat maupun istana, selalu berkaitan erat dengan perilaku ritual masyarakat pertanian. Dengan datangnya perubahan sosial yang hadir sebagai akibat proses industrialisasi dan sistem ekonomi pasar, dan globalisasi informasi, maka kesenian kita pun mulai bergeser ke arah kesenian yang berdimensi komersial. Kesenian-kesenian yang bersifat ritual mulai tersingkir dan kehilangan fungsinya. Sekalipun demikian, bukan berarti semua kesenian tradisional kita lenyap begitu saja.
Ada berbagai kesenian yang masih menunjukkan eksistensinya, bahkan secara kreatif terus berkembang tanpa harus tertindas proses modernisasi. Pesatnya laju teknologi informasi atau teknologi komunikasi telah menjadi sarana difusi budaya yang ampuh, sekaligus juga alternatif pilihan hiburan yang lebih beragam bagi masyarakat luas. Akibatnya masyarakat tidak tertarik lagi menikmati berbagai seni pertunjukan tradisional yang sebelumnya akrab dengan kehidupan mereka. Misalnya saja kesenian tradisional wayang orang Bharata, yang terdapat di Gedung Wayang Orang Bharata Jakarta kini tampak sepi seolah-olah tak ada pengunjungnya. Hal ini sangat disayangkan mengingat wayang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Indonesia yang sarat dan kaya akan pesan-pesan moral, dan merupakan salah satu agen penanaman nilai-nilai moral yang baik, menurut saya. Contoh lainnya adalah kesenian Ludruk yang sampai pada tahun 1980-an masih berjaya di Jawa Timur sekarang ini tengah mengalami “mati suri”. Wayang orang dan ludruk merupakan contoh kecil dari mulai terdepaknya kesenian tradisional akibat globalisasi. Bisa jadi fenomena demikian tidak hanya dialami oleh kesenian Jawa tradisional, melainkan juga dalam berbagai ekspresi kesenian tradisional di berbagai tempat di Indonesia. Sekalipun demikian bukan berarti semua kesenian tradisional mati begitu saja dengan merebaknya globalisasi.
Di sisi lain, ada beberapa seni pertunjukan yang tetap eksis tetapi telah mengalami perubahan fungsi. Ada pula kesenian yang mampu beradaptasi dan mentransformasikan diri dengan teknologi komunikasi yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat, misalnya saja kesenian tradisional “Ketoprak” yang dipopulerkan ke layar kaca oleh kelompok Srimulat. Kenyataan di atas menunjukkan kesenian ketoprak sesungguhnya memiliki penggemar tersendiri, terutama ketoprak yang disajikan dalam bentuk siaran televisi, bukan ketoprak panggung. Dari segi bentuk pementasan atau penyajian, ketoprak termasuk kesenian tradisional yang telah terbukti mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Selain ketoprak masih ada kesenian lain yang tetap bertahan dan mampu beradaptasi dengan teknologi mutakhir yaitu wayang kulit. Beberapa dalang wayang kulit terkenal seperti Ki Manteb Sudarsono dan Ki Anom Suroto tetap diminati masyarakat, baik itu kaset rekaman pementasannya, maupun pertunjukan secara langsung. Keberanian stasiun televisi Indosiar yang sejak beberapa tahun lalu menayangkan wayang kulit setiap malam minggu cukup sebagai bukti akan besarnya minat masyarakat terhadap salah satu khasanah kebudayaan nasional kita. Bahkan Museum Nasional pun tetap mempertahankan eksistensi dari kesenian tradisonal seperti wayang kulit dengan mengadakan pagelaran wayang kulit tiap beberapa bulan sekali dan pagelaran musik gamelan tiap satu minggu atau satu bulan sekali yang diadakan di aula Kertarajasa, Museum Nasional.
2.4. CARA MENGANTISIPASI ADANYA GLOBALISASI KEBUDAYAAN
Peran kebijaksanaan pemerintah yang lebih mengarah kepada pertimbangan-pertimbangan ekonomi daripada cultural atau budaya dapat dikatakan merugikan suatu perkembangan kebudayaan. Jennifer Lindsay (1995) dalam bukunya yang berjudul ‘Cultural Policy And The Performing Arts In South-East Asia’, mengungkapkan kebijakan kultural di Asia Tenggara saat ini secara efektif mengubah dan merusak seni-seni pertunjukan tradisional, baik melalui campur tangan, penanganan yang berlebihan, kebijakan-kebijakan tanpa arah, dan tidak ada perhatian yang diberikan pemerintah kepada kebijakan kultural atau konteks kultural.
Dalam pengamatan yang lebih sempit dapat kita melihat tingkah laku aparat pemerintah dalam menangani perkembangan kesenian rakyat, di mana banyaknya campur tangan dalam menentukan objek dan berusaha merubah agar sesuai dengan tuntutan pembangunan. Dalam kondisi seperti ini arti dari kesenian rakyat itu sendiri menjadi hambar dan tidak ada rasa seninya lagi. Melihat kecenderungan tersebut, aparat pemerintah telah menjadikan para seniman dipandang sebagai objek pembangunan dan diminta untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan simbol-simbol pembangunan. Hal ini tentu saja mengabaikan masalah pemeliharaan dan pengembangan kesenian secara murni, dalam arti benar-benar didukung oleh nilai seni yang mendalam dan bukan sekedar hanya dijadikan model saja dalam pembangunan.
Dengan demikian, kesenian rakyat semakin lama tidak dapat mempunyai ruang yang cukup memadai untuk perkembangan secara alami atau natural, karena itu, secara tidak langsung kesenian rakyat akhirnya menjadi sangat tergantung oleh model-model pembangunan yang cenderung lebih modern dan rasional. Sebagai contoh dari permasalahan ini dapat kita lihat, misalnya kesenian asli daerah Betawi yaitu, tari cokek, tari lenong, dan sebagainya sudah diatur dan disesuaikan oleh aparat pemerintah untuk memenuhi tuntutan dan tujuan kebijakan-kebijakan politik pemerintah. Aparat pemerintah di sini turut mengatur secara normatif, sehingga kesenian Betawi tersebut tidak lagi terlihat keasliannya dan cenderung dapat membosankan. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak dikehendaki terhadap keaslian dan perkembangan yang murni bagi kesenian rakyat tersebut, maka pemerintah perlu mengembalikan fungsi pemerintah sebagai pelindung dan pengayom kesenian-kesenian tradisional tanpa harus turut campur dalam proses estetikanya. Memang diakui bahwa kesenian rakyat saat ini membutuhkan dana dan bantuan pemerintah sehingga sulit untuk menghindari keterlibatan pemerintah dan bagi para seniman rakyat ini merupakan sesuatu yang sulit pula membuat keputusan sendiri untuk sesuai dengan keaslian (oroginalitas) yang diinginkan para seniman rakyat tersebut.
Oleh karena itu pemerintah harus ‘melakoni’ dengan benar-benar peranannya sebagai pengayom yang melindungi keaslian dan perkembangan secara estetis kesenian rakyat tersebut tanpa harus merubah dan menyesuaikan dengan kebijakan-kebijakan politik. Globalisasi informasi dan budaya yang terjadi menjelang millenium baru seperti saat ini adalah sesuatu yang tak dapat dielakkan. Kita harus beradaptasi dengannya karena banyak manfaat yang bisa diperoleh. Harus diakui bahwa teknologi komunikasi sebagai salah produk dari modernisasi bermanfaat besar bagi terciptanya dialog dan demokratisasi budaya secara masal dan merata.
Globalisasi mempunyai dampak yang besar terhadap budaya. Kontak budaya melalui media massa menyadarkan dan memberikan informasi tentang keberadaan nilai-nilai budaya lain yang berbeda dari yang dimiliki dan dikenal selama ini. Kontak budaya ini memberikan masukan yang penting bagi perubahan-perubahan dan pengembangan-pengembangan nilai-nilai dan persepsi dikalangan masyarakat yang terlibat dalam proses ini. Kesenian bangsa Indonesia yang memiliki kekuatan etnis dari berbagai macam daerah juga tidak dapat lepas dari pengaruh kontak budaya ini. Sehingga untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap perubahan-perubahan diperlukan pengembangan-pengembangan yang bersifat global namun tetap bercirikan kekuatan lokal atau etnis. Globalisasi budaya yang begitu pesat harus diantisipasi dengan memperkuat identitas kebudayaan nasional.
Berbagai kesenian tradisional yang sesungguhnya menjadi aset kekayaan kebudayaan nasional jangan sampai hanya menjadi alat atau slogan para pemegang kebijaksanaan, khususnya pemerintah, dalam rangka keperluan turisme, politik dsb. Selama ini pembinaan dan pengembangan kesenian tradisional yang dilakukan lembaga pemerintah masih sebatas pada unsur formalitas belaka, tanpa menyentuh esensi kehidupan kesenian yang bersangkutan. Akibatnya, kesenian tradisional tersebut bukannya berkembang dan lestari, namun justru semakin dijauhi masyarakat. Dengan demikian, tantangan yang dihadapi oleh kesenian rakyat cukup berat. Karena pada era teknologi dan komunikasi yang sangat canggih dan modern ini masyarakat dihadapkan kepada banyaknya alternatif sebagai pilihan, baik dalam menentukan kualitas maupun selera. Hal ini sangat memungkinkan keberadaan dan eksistensi kesenian rakyat dapat dipandang dengan sebelah mata oleh masyarakat, jika dibandingkan dengan kesenian modern yang merupakan imbas dari budaya pop. Untuk menghadapi hal-hal tersebut di atas ada beberapa alternatif untuk mengatasinya, yaitu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM ) bagi para seniman rakyat. Selain itu, mengembalikan peran aparat pemerintah sebagai pengayom dan pelindung, dan bukan sebaliknya justru menghancurkannya demi kekuasaan dan pembangunan yang berorientasi pada dana-dana proyek atau dana-dana untuk pembangunan dalam bidang ekonomi saja











BAB IV
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Pengaruh globalisasi disatu sisi ternyata menimbulkan pengaruh yang negatif bagi kebudayaan bangsa Indonesia . Norma-norma yang terkandung dalam kebudayaan bangsa Indonesia perlahan-lahan mulai pudar. Gencarnya serbuan teknologi disertai nilai-nilai interinsik yang diberlakukan di dalamnya, telah menimbulkan isu mengenai globalisasi dan pada akhirnya menimbulkan nilai baru tentang kesatuan dunia. Radhakrishnan dalam bukunya Eastern Religion and Western Though (1924) menyatakan “untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, kesadaran akan kesatuan dunia telah menghentakkan kita, entah suka atau tidak, Timur dan Barat telah menyatu dan tidak pernah lagi terpisah. Artinya adalah bahwa antara barat dan timur tidak ada lagi perbedaan. Atau dengan kata lain kebudayaan kita dilebur dengan kebudayaan asing. Apabila timur dan barat bersatu, masihkah ada ciri khas kebudayaan kita? Ataukah kita larut dalam budaya bangsa lain tanpa meninggalkan sedikitpun sistem nilai kita? Oleh karena itu perlu dipertahanan aspek sosial budaya Indonesia sebagai identitas bangsa. Caranya adalah dengan penyaringan budaya yang masuk ke Indonesia dan pelestarian budaya bangsa. Bagi masyarakat yang mencoba mengembangkan seni tradisional menjadi bagian dari kehidupan modern, tentu akan terus berupaya memodifikasi bentuk-bentuk seni yang masih berpolakan masa lalu untuk dijadikan komoditi yang dapat dikonsumsi masyarakat modern. Karena sebenarnya seni itu indah dan mahal. Kesenian adalah kekayaan bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya dan tidak dimiliki bangsa-bangsa asing. Oleh sebab itu, sebagai generasi muda, yang merupakan pewaris budaya bangsa, hendaknya memelihara seni budaya kita demi masa depan anak cucu.
3.2. SARAN
Dengan begitu, kami menyarankan agar kalian jangan sampai terbawa hal – hal buruk dalam pergaulan. Dan untuk para orang tua, kalian adalah orang yang sangat penting dalam hal mengontrol anak anda, apalagi yang memiliki anak remaja, pengawasan orang tua adalah yang paling utama sebelum pengawasan guru, teman, maupun orang lain.
            Dan kalian harus bersikap selektif dalam mengikuti setiap perkembangan globalisasi. Dan gunakanlah teknologi,informasi, dan komunikasi dengan sebaik – baiknya.
3.3. PENUTUP
Sekian hal – hal yang dapat kami bahas dan sampaikan. Mohon maaf bila ada salah kata. Mudah – mudahan dapat bermanfaat bagi kalian. Dan kami mengharapkan sumbangan pikiran, kritikan, maupun saran.Terima Kasih.




DAFTAR PUSTAKA
Kuntowijoyo, Budaya Elite dan Budaya Massa dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan 1997. 2. Sapardi Djoko Damono, Kebudayaan Massa dalam Kebudayaan Indonesia: Sebuah Catatan Kecil dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan 1997. 3. Fuad Hassan. “Pokok-pokok Bahasan Mengenai Budaya NusantaraIndonesia”
Dalam http://kongres.budpar.go.id/news/article/Pokok_pokok_bahasan.htm, didownload 7/15/04. 4. Koenjaraningrat. 1990. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia. 5. Adeney, Bernard T. 1995. Etika Sosial Lintas Budaya. Yogyakarta: Kanisius. Al-Hadar Smith, “Syariah dan Tradisi Syi’ah Ternate”, dalam http://alhuda.or.id/rub_budaya.htm , didownload 7/15/04. 6. http://www.google=pengaruh globalisasi terhadap eksistensi kebudayaan daerah.com/



Menambahkan Gambar


Jumat, 14 Oktober 2016

PPT Kelompok Jakarta

Power Point Kelompok 2 (Jakarta)
Uji kompetensi 6

A.    Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1.       Dibawah ini yang merupakan sikap dan pola perilaku yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan yaitu…
a.       Tidak memaksakan agama atau kepercayaan kepada orang lain.
b.      Setia dan cinta tanah air serta bangga sebagai bangsa Indonesia.
c.       Mengembangkan persatuan dan kesatuan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
d.      Memercayakan tugas dan kewajiban kepada wakil-wakil rakyat yang telah terpilih.
e.      Mengembangkan sikap gotong royong dan kekeluargaan.
2.       Wujud sikap menjunjung tingg inilai-nilai kemanusiaan di bawah ini adalah..
a.       Mengakui persamaan hak, derajat, dan kewajiban setiap manusia tanpa membedakan ras, suku, agama, kedudukan.
b.      Tidak memaksakan agama atau kepercayaan kepada orang lain.
c.       Setia dan cinta tanah air serta bangga sebagai bangsa Indonesia.
d.      Siap sedia membela dan berkorban untuk kepentingan bangsa Indonesia.
e.      Mengembangkan persatuan dan kesatuan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
3.       Wujud dari sikap menjunjung nilai-nilai persatuan Indonesia…
a.       Melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Tuhan.
b.      Setia dan cinta tanah air serta bangga sebagai bangsa Indonesia.
c.       Memercayakan tugas dan kewajiban kepada wakil-wakil rakyat yang telah terpilih.
d.      Senang melakukan kegiatan amal.
e.      Membina sikap saling menghormati dan tolong menolong.
4.       Wujud dari sikap menjunjung tinggi nilai perwakilan…
a.       Mengutamakan musyawarah mufakat dalam setiap pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama.
b.      Mengembangkan sikap gotong royong.
c.       Tidak melakukan perbuatan yang merugikan.
d.      Suka bekerja keras dan membantu.
e.      Ikut aktif dalam berbagai kegiatan.
5.       Wujud dari sikap menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan social adalah…
a.       Tidak memaksakan agama kepada orang lain.
b.      Siap sedia membela tanah air.
c.       Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
d.      Memercayakan tugas dan kewajiban kepada wakil rakyat.
e.      Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.

B.    Jawablah pertanyaan berikut dengan benar dan tepat!

1.       Sebutkan perilaku yang dapat mempererat kerukunan beragama!
-          Mengembangkan sikap tolong menolong dan membina kerja sama antarumat beragama dimulai dari lingkungannya sendiri
-          Bertoleransi antarumat beragama
-          Berteman dengan antarumat agama
-          Memberikan waktu kepada pemeluk agama lain untuk melakukan kewajibannya bila sudah waktunya
2.       Sebutkan contoh wujud cinta tanah air!
-          Menjaga nama baik bangsa dan tanah air Indonesia
-          Berjiwa dan berkrepibadian Indonesia
-          Bangga bertanah air Indonesia, dengan penduduk dan adat istiadat yang berbhineka
-          Tidak akan melakukan perbuatan dan tindakan yang merugikan tanah air dan bangsa
-          Setia dan taat kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku
-          Mencintai produk dalam negeri
-          Saling menghormati baik sesama agama maupun beda agama’
-          Menghargai jasa para pahlawan
3.       Sebutkan sikap-sikap positif dalam kegiatan musyawarah!
-          Mengutamakan musyawarah mufakat dalam setiap pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama
-          Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain yang tidak sependapat dengan kita
-          Menghargai pendapat yang disampaikan orang lain
4.       Sebutkan sifat-sifat bangsa Indonesia yang tercermin dalam pancasila!
-          Memiliki semangat gotong-royong tinggi
-          Saling tolong-menolong
-          Adanya toleransi antar umat beragama

5.       Sebutkan contoh menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan!
-          Melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Tuhan,sesuai agama atau kepercayaan yang dianut
-          Mengembangkan sikap tolong menolong dan membina kerja sama antarumat beragama dimulai dari lingkungannya sendiri
-          Mengembangkan sikap toleransi antarumat beragama menuju kehidupan yang harmonis,serasi,selaras, dan seimbang
-          Tidak memaksakan agama atau kepercayaan kepada orang lain.
Uji kompetensi 5

           A  .  Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1.      Paradigma berasal dari kata paradigm yang merupakan Bahasa Inggris, yang artinya…
a.       Lugas
b.      Cepat
c.       Model
d.      Alat
e.       Pimpinan
2.      Paradigma adalah pandangan mendasar para ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang seharusnya dipelajari oleh usatu cabang ilmu pengetahuan
Pernyataan tersebut merupakan pengertian paradigma menurut…
a.       Ir. Soekarno
b.      C.J. Ritzer
c.       Fraenkell
d.      Mulyana
e.       Robert M.Z. Lawang
3.      Sebagai upaya mewujudkan kerukunan beragama, kita harus..
a.       Mencampuri urusan agama lain
b.      Ikut aktif dalam upacara agama lain
c.       Saling menghormati antara umat beragama
d.      Mengejek agama yang dianggap salah
e.       Menganggap agama sendiri paling benar
4.      Pancasila menjadi paragdima dalam pembangunan diberbagai bidang berikut, kecuali…
a.       Pembangunan politik
b.      IPTEK
c.       Ekonomi
d.      Social budaya
e.       Kesejahteraan
5. .      Untuk menghindari terjadinya konflik di Negara kita akibat perbedaan agama, pengembangan kehidupan beragama harus didasarkan pada nilai-nilai…
a.       Pancasila
b.      Undang-undang
c.       Prinsip setiap individu
d.      UUD 1945
e.       Prinsip presiden
B.    Jawablah pertanyaan berikut ini dengan tepat dan benar!

1.  Mengapa masyarakat harus turut terlibat dalam upaya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah?
Karena masyarakkat berpengaruh untuk kelancaran pembangunan oleh pemerintah yang bertujuan untuk mewujudkan cita – cita bangsa
2.       Aspek apa yang harus diperhatikan dalam pembangunan nasional?
a.       Terdapat keselarasan yang utuh dalam seluruh kegiatan
b.      Pembangunan harus merata di seluruh wilayah tanah air
c.       Subjekk dan objekk pembangunan
d.      Dilaksanakan bersama oleh pemerintah dan rakyat
3.      Mengapa globalisasi mampu membawa pengaruh positif bagi pembangunan nasional?
Karena :
  a. Mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan
b. Mudah melakukkan komunikasi
c. Menumbuhkan sikap toleran
4.   Jelaskan makna  pancasila sebagai paradigma dalam pembangunan ekonomi!
Sistem ekonomi harus mendasar pada moralitas ketuhanan dan kemanusiaan (sila pertama dan kedua). Sistem ekonomi yang berdasar pancasila adalah sistem ekonomi kerakyatan yang berasas kekeluargaan

5.    Sebutkan cara mewujudkan kerukunan beragama!
a.       Saling menghormati sesama agama / agama lain
b.      Saling toleransi
c.       Menjaga hubungan yang harmonis
Uji kompetensi 4

        A.  Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1.      Nilai adalah ide-ide masyarakat tentang sesuatu yang baik. Pernyataan tersebut merupakan perngertian nilai menurut…
a.       Simanjutak
b.      Ir. Soekarno
c.       Ahmad Subarjo
d.      Bung Hatta
e.       Max Weber
2      Di bawah ini merupakan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, kecuali…
a.       Nilai dasar
b.      Nilai instrumental
c.       Nilai praksis
d.      Nilai suci
3.      Yang bukan merupakan nilai yang terkandung dalam sila kelima adalah…
a.       Persatuan dan kesatuan dalam arti ideologis
b.      Tidak adanya golongan tirani minoritas dan mayoritas
c.       Adanya keselarasan, keseimbangan, serta keserasian antara hak dan kewajiban rakyat Indonesia
d.      Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia
e.       Menghargai hasil karya orang lain
4.  1.Nilai kenikmatan.  3. Nilai kerohanian
     2.Nilai ekonomi.        4. Nilai politik
Macam-macam nilaimenurut Max Scheler diantaranya.....
a.       1 dan 4.    d. 1 dan 3
b.      2 dan 3.     e. 2 dan 4
c.       1 dan 2
 5. Sumber nilai yang mengandung konsekuensi - konsekuensi, kecuali ..............
 a)      Harus dijaga keutuhannya
 b)      Adanya kesewenangan sesama
 c)        Aspek penyelenggaraan negara
 d)      Harus dijabarkan dalam suatu norma

B. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan tepat!

1.   Tuliskan pengertian nilai menurut Fraenkel!
nilai adalah ide atau konsep tentang apa yang dipikirkan seseorang atau dianggap penting oleh seseorang
2.    Mengapa nilai dikatakan bersifat abstrak?
karena masih dalam pemikiran manusia, sehingga harus dijabarkan lebih lanjut agar dapat diterapkan dan dijadikan pedoman dalam kehidupan nyata. dalam konteks hidup bernegara, pancasila sebagai asas negara dan asas kerohanian negara menjadi nilai dasar.
3.    Sebutkan contoh perbuatan yang mengamalkan sila pertama Pancasila!
Sila pertama menunjukkan bahwa Tuhan adalah sebab pertama dari segala sesuatu dan segala sesuatu bergantung kepada-Nya, maka jika didasarkan pada sila pertama pancasila masyarakat Indonesia akan mengembangkan toleransi antarumat beragama dan toleransi sesama umat beragama,
4.    Sebutkan macam-macam nilai kerohanian menurut Notonagoro!
nilai kerohanian dibagi menjadi empat macam, yaitu:
1)   Nilai kebenaran
2)   Nilai keindahan
3)   Nilai kebaikan
4)   Nilai religius

5.    Sebutkan tiga nilai yang terkandung dalam sila kelima Pancasila!
1)   Tidak adanya golongan tirani minoritas dan mayoritas
2)   Adanya keselarasan, keseimbangan, serta keserasian hak dan kewajiban rakyat Indonesia
3)   Kedermawanan terhadap sesama, sikap hidup hemat,sederhana, dan kerja keras